Rabu, 05 September 2012

Puisi Sosial


WAJAH, WAJAH BERINGASNYA

Mencintai sesama terkadang menjadi terabaikan
ketika kepentingan melandasi kekuasaan.
Amarah, kesombongan dan keangkuhan,
masih bersinggungan dalam kehidupan.
Memaksakan kehendak ternyata
harus dibayar dengan mahal.
Nyawa tak lagi berharga
Karena martabat hilang esensinya.
Membunuh tanpa ada rasa dosa
Karena dendam sudah di dada.
Mereka bangga,
memukuli saudara sebagai kemenangan.
Mereka luupa,
yang di hadapan adalah saudara.
Mereeka juga lupa,
tak berfikir siapa yang sebenarnya dimenangkan.
Mereka tak pernah berfikir,
tuk apa hal itu terjadi
Yang ada kini penyesalan yang tak berarti.

Pacul, April 2010
By. S_Ro’is

Tidak ada komentar:

Posting Komentar